30 November 2015

MENGUNGKAP PUISI-PUISI TENTANG 'RASA'

Tiga buah puisi saya tersiar dalam akhbar Utusan Borneo pada 29 November 2015. Ketiga-tiga puisi ini sebenarnya mengungkap tentang 'rasa' atau perasaan. Puisi pertama mengungkap rasa tentang kehilangan yang selalu terjadi dalam hidup kita. Puisi kedua tentang rasa kegelisahan masa lalu dan puisi ketiga tentang kepasrahan dan ketabahan. Mari kita telusuri rasa ini satu persatu.


MERAWAT KEHILANGAN

Ketika kau terasa
kehilangan itu pahit
kau harus terus berjalan
meniti liku-liku hari
berteman atau sendiri
dengan girang atau sunyi
kau harus tetap melangkah
mengharung rona pancaroba
dengan tabah atau hiba.

Ketika kau terasa
kehilangan itu sakit
kau harus teguh meyakini
tiada yang abadi
sesingkat perjalanan ini.

Masa sedang merawat
seribu duka yang bersepah
di hamparan jiwa
masa sedang mengubat
sejuta luka yang menusuk
di dasar sukma.

SANI LA BISE
Labuan


MENOLEH MASA LALU

Pada episod kembara
kita lewati denai usia
setapak demi setapak
tanpa sempat menoleh
kerana perjalanan ini jauh
kita melangkah ghairah
meninggalkan jejak
membisu dan lenyap
dihembus waktu.

Sesudah lembayung menyapa
di ufuk senja
kita pun menoleh dan tersedar
mahalnya pedoman
untuk kembali ke pangkal
jejak tapaknya telah lenyap
dimamah alamiah.

Masa lalu itu terlalu jauh
untuk diundur selangkah
mengatur jejak sumbang
di sepanjang likuan
perjalanan lalu.

SANI LA BISE
Labuan



AIR MATA DI NEGERI KALBU

Di negeri ini
air mata telah lama tumpah
membanjiri ceruk kota
dan pelosok desa
melimpahi kolam hati
tiap-tiap warga.

Bukan sebulan
atau dua bulan
malah bertahun-tahun
air mata itu tidak kering
sehingga kemarau melanda
tanah-tanih merekah
tiada setitik air mata lagi
terbiar jatuh
di jelapang nasib.

Barangkali warganya
telah lama redha
pada tinta tertulis
di dinding takdir
sebelum musibah itu
bertandang duga
di negeri kalbu.

SANI LA BISE
Labuan